Silat Sendeng adalah aliran silat tradisional
yang banyak berkembang di kalangan Bugis, Riau, dan Semenanjung Melayu.
Ciri khasnya adalah posisi tubuh menyamping (sendeng) saat
bertarung, untuk melindungi tujuh anggota tubuh vital sekaligus memudahkan
serangan balasan.
Penulis pernah bertemu Raja Timat dari
Bintan, Kepulauan Riau - seorang bangsawan Melayu tempatan yang mewariskan
silat ini secara turun-temurun. Dalam latihan, pesilat bergerak miring,
melindungi muka, halkum, dan dada sambil menyiapkan serangan balik cepat dan
tajam.
Silat Sendeng Bintan adalah seni bela diri
tradisional Melayu yang berasal dari Bentan Penao di Pulau Bintan,
Kepulauan Riau ini, unik karena menekankan gerakan yang tidak agresif, lebih
fokus pada teknik "melingkupi" dan "meninggalkan"
lawan daripada memukul. Tiga langkah rahasianya adalah nampak (melihat
gerakan lawan), ingat (mengingat gerakan sendiri), dan sabar (menanti
dan mengalah).
Silat ini juga dikenal di Melayu Pontianak sebagai Silat
Tujuh Sendeng, yang dilatih pada malam hari dan menekankan pembinaan
moral dan adab muridnya. Kabarnya, pada masa Pak Long Komeng sekitar
tahun 1930-an di Tanjung Hulu Pontianak, silat ini sangat disegani.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar